Showing posts with label kesusastraan. Show all posts
Showing posts with label kesusastraan. Show all posts

Friday, August 21, 2020

Kesusastraan| Elechi Amadi

 Elechi Amadi adalah seorang sastrawan prosa berkebangsaan Nigeria. Sebagai seorang novelis ia dikenal sebagai sastrawan yang menggambarkan tentang cerita rakyat dan spiritualitas kehidupan di desa tradisional. 

Amadi berasal dari etnis Igbo. Ia lahir pada tahun 1934 di sebuah desa kecil di wilayah timur laut Nigeria, berdekatan dengan Port Hartcourt. Pada tahun 1959 ia menamatkan studi ilmu fisika dan matematika dari University College of Ibadan, institusi yang merupakan alma mater bagi sejumlah penulis terkenal Nigeria, seperti Chinua Achebe, John Pepper Clark, Christopher Okigbo, dan Wole Soyinka. Amadi kemudian bekerja sebagai seorang surveyor tanah, kemudian mengajar sains selama tiga tahun pada sekolah misionaris di Ahoasa dan Oba. Pada tahun 1963 ia bergabung ke dalam Angkatan Bersenjata Nigeria; dalam periode ini Amadi mengajar bahasa pada sebuah sekolah militer di Zaria, mesosialisasikan dialek Igbo di sana.

Novel pertama Amadi, The Concubine, menggabungkan detil psikologis dan pengamatan yang cermat mengenai seorang perempuan muda di desa yang bertarung menghadapi kekuatan-kekuatan spiritual. Penerbitan novel ini pada tahun 1966 berbarengan dengan proklamasi kemerdekaan Biafra sebagian besar wilayahnya dihuni oleh suku Igbo. 

Kedekatan Amadi dengan pihak Federal selama terjadi konflik membuatnya terkucilkan karena sebagian besar penulis dan sastrawan dari etnis Igbo berseberangan dengannya secara politis. Amadi bersekukuh untuk tidak menulis novel tentang politik; ia menganggap politisasi karya sastra sebagai "pelacuran kesusastraan (prostitution of literature)". Konsistensinya untuk tidak memuat unsur politik di dalam karya sastra ditunjukkan oleh Amadi melalui novel Sunset in Biafra: A Civil War Diary, disusul kemudian dengan The Great Ponds (1969) dan The Slave (1978), kesemuanya lebih menceritakan mitologi tentang kehidupan pedesaan. Ketiga karya ini menjadi trilogy yang terkenal.

Setelah perang berakhir Elechi Amadi menjadi dean of arts pada Rivers State College of Education (1985-1986) dan, kemudian commissioner for education di Rivers State (1988-1989). Pada tahun 1986 kembali Amadi menghasilkan karya, yang ia beri judul Estrangement. Kali ini Amadi menyoroti kehidupan perkotaan dengan mengeksplorasi dampak perang dengan menghimpun informasi dari sejumlah orang yang selamat dari perang tersebut. Memasuki era 1970an, Amadi menerbitkan empat karya, namun kali ini ia merambah ke genre drama. Keempat karya tersebut adalah Isiburu (1973), Peppersoup (1973), The Road to Ibadan (1973), dan Dancer of Johannesburg (1979). Dekade berikutnya ditandai dengan partisipasi Amadi di dalam penulisan karya ilmiah melalui tulisannya yang berjudul Ethics in Nigerian Culture (1982).


Kepustakaan:

Tuttle K. "Amadi, Elechi." Dalam: Appah A, Gates, Jr. HL. (eds.). (2010). Encyclopedia of Africa. Volume 1. Oxford University Press. hal. 95.

Friday, March 20, 2020

Bahasa Indonesia | Membaca, Topi Miring Sinjo Kemajoran

Satu waktu datang dari Betawi rombongan Tonil Dardanella. Pada salah satu pementasan cerita yang mereka bawakan dan kami tonton berjudul Sinjo Kemajoran. Sinjo ini diumpamakan seorang Indo bernama Leo Ten Brink. Dari awal hingga akhir pementasan, tokoh sentral ini memakai sebuah baret di kepalanya. Karena bentuknya yang bundar pipih miring ke bawah dengan sebuah buntut pendek kecil di tengah-tengahnya, topi ini dianggap umum sebagai pencerminan krisis ekonomi yang sedang berlaku, jadi "topi meleset" dari "zaman meleset". Maka baret ini cepat menjadi topinya anak-anak muda kota ketika itu. Dan kakak-kakakku tak mau ketinggalan membelikan satu untuk aku. Kalau yang ini senang aku memakainya.

"Ah, tak di emaklah topi seperti itu," kata emak mencibir. "Apa-apaan meniru laki-laki Indo Kemajoran seperti itu. Orangnya banyak omong, hilir mudik tak menentu."

"Bukan orangnya Mak yang kami tiru, tapi topinya yang memang kocak." Kak Marni membelia pilihannya. "Kata orang topi seperti ini biasa dipakai oleh laki-laki dan perempuan di Paris. Coba Mak lihat!" Lalu kedua kakakku bergantian memperagakan pemakaian baret. Harus kuakui bahwa mereka kelihatan manis sekali dengan baret miring di atas rambut hitam lebat yang dikepang dua, menggelantung ke bawah mengapit leher yang jenjang. "Nah sekarang giliran emak memakainya," ajak Kak Marni. "Ayolah Mak, mari dicoba. Ecek-eceknya kita berada di kota Paris."

"Mak, ini bukan ecek-ecek lagi," sambung Kak Ani. "Sekarang ini kita sudah berada di Paris. 'Kan Medan sudah disebut-sebut sebagai Parijs van Sumatra. Ayo, Mak, cobalah baret ini."

Emak bangkit dari tempat duduknya dan segera memakai baret di kepalanya. Rambutnya yang juga mengikal mayang dibiarkan tergerai sampai ke pinggangnya. Dia lalu melenggang-lenggok seperti yang tadi diperagakan oleh kedua kakakku. Kami bertepuk tangan kegirangan melihat hal ini. Emak kelihatan tak kalah manis daripada kakak, apalagi kalau dia betul-betul bersolek. Ketika tiba giliranku memakai baret, bapak muncul di ambang pintu.

"Ada apa sorak-sorai gemuruh ini," tanyanya ingin tahu.

"Lihat Pak, si Daoed saya belikan topi baru," kata Kak Marni. "Namanya baret."

"Oh, seperti yang dipakai oleh pemain tonil itu," komentar bapak. "Nanti bolehlah bapak pinjam untuk dipakai ke kandang lembu."

"Ah, sampai hati Bapak bilang begitu," protes Kak Marni seperti merajuk. Padahal dia tahu ucapan bapak tadi hanya untuk main-main saja. "Ini bukan topi sembarangan Pak! Masak mau dipakai ke kandang."

"Sudahlah. Ini bapak ganti uangmu ala kadarnya," kata bapak sambil menyerahkan tiga talen kepada kakak. "Biarkan si Daoed memakai kabaret itu. Pantas dan gagah kelihatannya."

"Anak siapa dulu?" kata emak menggoda bapak.

"Bin Mohammad Joesoef!" Bagai dalam paduan suara kakak-kakak dan aku bersuara serentak.

Bapak tersenyum belaka dan pergi meninggalkan kami. Setelah bapak menghilang, dengan baret tetap bertengger di kepala, aku ajak kedua kakakku berdialog dengan logat Betawi meniru apa yang dipentaskan oleh Tonil Dardanella. Logat ini kedengarannya lucu. Emak bisa tergelak-gelak mendengar ucapan-ucapan ala Betawi kami. Kalau semua orang di Betawi berbicara dengan logat seperti ini pikirku di dalam hati, alangkah kocaknya kehidupan di Ibu Kota Hindia Belanda ini.

Referensi:
Joesoef D. 2010. Emak: Penuntunku dari Kampung Darat sampai Sorbonne. Jakarta, Indonesia: Penerbit Buku Kompas. hal.12-14

Saturday, September 21, 2019

Bahasa dan Sastra | Drama Mahkamah (Asrul Sani, 1984)

Dalam ruangan ini tidak ada perbedaan antara malam dan siang. Biarpun di kamar tidur Bahri hari sudah malam, kualitas cahaya dalam ruang mahkamah tetap sama. Murni datang diantarkan seorang petugas pengadilan. Ia berhenti sebentar untuk memandang wajah suaminya.

Pembela : Nyonya Murni, silakan duduk

Bahri melihat Murni. Ia berdiri.

Bahri : Murni ... sayang!

Mendengar kata "sayang" itu Murni memalingkan muka lalu duduk tertunduk. Pembela mendekati Murni, lalu berkata.

Pembela : Nyonya ada sedikit pengakuan yang mungkin didengarkan oleh Majelis Hakim yang mulia. Kami mengetahui, bahwa dulu Nyonya adalah kekasih Kapten Anwar. Tapi orang yang mencintai Nyonya bukan dia satu-satunya. Ada lagi, yang lain, yaitu Mayor Bahri, suami Nyonya yang sekarang juga mencintai Nyonya. Kemudian Kapten Anwar dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan medan perang. Yang menjadi ketua pengadilan itu adalah Mayor Bahri, suami Nyonya. Saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan. Harap Nyonya jawab dengan jujur dan tujuan kepada Majelis Hakim ...

Murni mengangguk.

Pembela : Sudah berapa tahun Nyonya berumah tangga dengan Saudara Bahri?

Murni : Lebih dari tiga puluh tahun.

Pembela : Waktu yang cukup panjang untuk mengenali pribadi seseorang. Berdasrakan pengetahuan Nyonya, apakah mungkin Saudara Bahri menjatuhkan hukuman pada sahabat karibnya Anwar dengan maksud membunuhnya supaya dapat mengawini Nyonya? Tolong Nyonya jawab dengan sejujur-jujurnya. Cobalah Nyonya renungkan.

Murni : Saya tidak perlu merenungkannya. Saya kenal sifat suami saya. Suami saya seorang pejuang, seorang prajurit yang setia. Tidak, dia bukan pembunuh.

Pembela : Tolong sampaikan dengan lebih jelas pada Majelis Hakim.

Murni : Suami saya tidak membunuh Anwar karena ingin kawin dengan saya.

Pembela : Terima kasih, Nyonya. Untuk sementara sekian dulu Yang Mulia.

Hakim Ketua : Saudara Penuntut Umum, giliran Saudara.

Penuntut Umum : Nyonya Murni, apakah Nyonya seorang yang dapat dipercaya? Ataukah Nyonya berkata begitu hanya sekadar mimpi memamerkan kesetiaan pada suami yang sebetulnya sama sekali tidak Nyonya miliki.

Pembela : Yang Mulia, saya keberatan terhadap ucapan Saudara Penuntut Umum. Di sini yang diadili adalah Saudara Bahri, bukan Nyonya Murni.

Penuntut Umum : Maaf, Yang Mulia. Saudara Pembela terlalu terburu nafsu. Saya belum selesai bicara. Saya tidak mengadili. Saya hanya membuat suatu kesimpulan.

Hakim Ketua : Teruskan, Saudara Penuntut Umum.

Penuntut Umum : Setelah Saudara Anwar meinggal -- berapa lama kemudian Nyonya menikah dengan Saudara Bahri?

Murni diam sebentar.

Penuntut Umum : Ayolah, Nyonya Murni. Menurut keterangan yang kami peroleh, Nyonya sangat cinta pada Saudara Anwar. Apa betul?

Murni mengangguk.

Penuntut Umum : Begitu cinta padanya, hingga lamaran Saudara Bahri yang pangkatnya lebih tinggi dari Saudara Anwar, Nyonya tolak. Saya tidak tahu pasti biarpun kepastian ini tidak penting dalam bermesraan dengan Saudara Anwar tidak akan begitu aneh jika Nyonya dan Saudara Anwar bersimpati untuk sehidup-semati itu biasa. Memang begitu biasanya anak-anak muda yang sedang bercinta. Lalu dia meninggal. Berapa bulan kemudian Nyonya menikah dengan Saudara Bahri?

Murni : Dua bulan ...