Showing posts with label kebudayaan. Show all posts
Showing posts with label kebudayaan. Show all posts

Friday, September 27, 2019

Antroposentrisme

Antroposentrisme (anthropocentrism), atau aliran yang terpusat pada manusia (human-centered), merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan-pandangan filsafat tertentu yang menyatakan bahwa prinsip-prinsip etika berlaku hanya pada manusia, dan kebutuhan dan kepentingan manusia merupakan nilai yang paling tinggi. Antroposentrisme berhubungan dengan filsafat agama maupun filsafat sekuler. Di dalam sains, antroposentrisme berperan penting di dalam membebaskan pengetahuan manusia dari kewenangan-kewenangan eksternal, dan mendorong kepentingan manusia sebagai satu kesatuan melawan kepentingan-kepentingan yang lain. Baik ilmuwan maupun ahli teologi telah menarik antroposentrisme untuk membantu mempertahankan pandangan spesifik tentang alam; ilmuwan berpedoman pada pandangan tentang evolusi di mana manusia dianggap sebagai bentuk tertinggi dari kehidupan di Bumi, sedangkan ahli teologi berpedoman pada hak yang dimandatkan oleh Tuhan kepada manusia untuk menjalankan dominasi atas alam.

Bermula pada sekitar tahun 1970 antroposentrisme menjadi semakin lazim terjadi di dalam wacana lingkungan. Etika antroposentris mengevaluasi isu-isu lingkungan berdasarkan bagaimana isu-isu tersebut mempengaruhi kebutuhan manusia dan terutama merujuk pada kepentingan manusia. Istilah ini bertolak belakang dengan berbagai pandangan biosentris (berpusat pada kehidupan), yang beranggapan bahwa makhluk selain manusia juga membawa nilai moral.

REFERENSI:

Kristiansen R. "Anthropocentrism". Dalam: JWV van Hyussteen. (2003). Encyclopedia of Science and Religion. New York: Macmillan Reference USA. hal. 18-19.

Monday, September 23, 2019

Kesenian | Raksasa Kembar Penjaga Suralaya

Suralaya adalah nama kahyangan yang menjadi tempat bertahtanya Batara Guru. Sebagai tempat yang sangat penting maka kahyangan tersebut memerlukan penjaga pintu gerbang sebagai bentuk pengamanan. Tersebutlah dua tokoh berbadan raksasa bernama Balaupata dan Cingkarabala. Keduanya adalah kembar dan merupakan anak dari Gopatama. Dengan demikian mereka termasuk saudara Lembu Andini, tunggangan Batara Guru. 

Balaupata dan Cingkarabala (Sucipta, 2010: 62)


Di gerbang masuk Kahyangan Suralaya terdapat pintu bernama Kori Selamatangkep. Di situlah Balaupata dan Cingkarabala bertugas sepanjang waktu. Salah satu tugas yang mereka laksanakan adalah menghadang siapa saja yang berkeinginan masuk dan/atau menemui Batara Guru. Mereka yang berkeinginan hal tersebut harus meminta ijin, dan, bilamana perlu, harus mengalahkan Balaupata dan Cingkarabala.

REFERENSI:

Sucipta M. (2010). Ensiklopedia Tokoh-tokoh Wayang dan Silsilahnya. Yogyakarta: Penerbit Narasi. hal. 62.