Showing posts with label Ilmu Pengetahuan Alam. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Pengetahuan Alam. Show all posts

Friday, August 28, 2020

IPA | Mengenal spesies kelelawar

 

Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), kelelawar di dalam skala internasional, yang mempergunakan bahasa Inggris sebagai pengantar umum, memiliki sejumlah sebutan, antara lain (namun tidak terbatas pada) bat, pipistrelle, dan noctule.

Di bawah ini terangkum nama internasional (bahasa Inggris) dan nama ilmiah (bahasa Latin; binomial) spesies kelelawar sesuai dengan data yang tercantum di dalam IUCN Red List yang saya akses pada tanggal 13 April 2019.

Spesies kelelawar dengan sebutan bat:
1. Gould's wattled bat (Chalinolobus gouldi)
2. Pallid bat (Antrozorus pallidus)
3. Large-eared pied bat (Chalinolobus dweyri)
4. Chocolate wattled bat (Chalinolobus morio)
5. Indiana bat (Myotis sodalis)
6. Particoloured bat (Vespertilio murinus)
7. Egyptian fruit bat (Rousettus aegyptiacus)
8. Natterer's bat (Myotis natterei)
9. Mountain long-eared bat (Plecotus macrobullaris)
10. Gray big-eared bat (Plecotus austriacus)
11. Geoffroy's bat (Myotis emarginatus)
12. Brown big-eared bat (Plecotus auritus)
13. Wrinkle-faced bat (Centurio senex)
14. Seba's short-tailed bat (Carollia perspicllata)
15. Antillean fruit-eating bat (Brachyphlla cavernarum)
16. Gervais's fruit-eating bat (Dermanura cinerera)
17. Thomass's fruit-eating bat (Dermanura watson)
18. Toltec fruit-eating bat (Dermanura tolteca)
19. Silky short-tailed bat (Carollia brevicauda)
20. Lesser long-tailed bat (Choeroniscus minor)
21. Dark fruit-eating bat (Artbeus obscurus)
22. Greater horseshoe bat (Rhinolophus ferrumequinum)
23. Lesser horseshoe bat (Rhinolophus hipposideros)
24. Little forest bat (Vespadelus vulturnus)
25. Little broad-nosed bat (Scotorepens greyii)
26. Schlieffen's bat (Nycticeinops schlieffeni)
27. Eastern sucker-footed bat (Myzopoda aurita)
28. Whitehead's wolly bat (Kerivoula whiteheadi)
29. Allen's yellow bat (Baeodon alleni)
30. Silver-haired bat (Lasionycteris noctivagans)
31. Slender yellow bat (Baeodon gracilis)
32. Finlayson's cave bat (Vespadelus darlington)
33. Large forest bat (Vespadelus caurinus)
34. Southern forest bat (Vespadelus regulus)
35. Northern broad-nosed bat (Scotorepens sanborni)
36. Eastern broad-nosed bat (Scotorepens orion)
37. Eastern forest bat (Vespadelus pumilus)
38. Inland forest bat (Vespadelus baverstocki)
39. Harlequin bat (Scotomanes ornatus)
40. Papillose wolly bat (Kerivoula papillosa)
41. Kachin wolly bat (Kervoula kachinensis)
42. Golden-tipped bat (Phoniscus papuenss)
43. Lenis wolly bat (Kervoula lenis)
44. White-bellied yellow bat (Scotophilus leucogaster)
45. Southern yellow bat (Lasiurus ega)
46. Titana's wolly bat (Kerivoula titania)
46. Eastern cave bat (Vespadelus troughtoni)
47. Pygmy long-eared bat (Nyctophilus walkeri)
48. Blandford's fruit bat (Sphaerias blanford)
49. Great evening bat (Ia io)
50. Disk-footed bat (Eudiscopus denticulus)
51. Big brown bat (Eptesicus fuscus)
52. Thick-eared bat (Eptescus pachyotis)
53. Inland broad-nosed bat (Scotorepens balstoni)

Spesies kelelawar dengan sebutan pipistrelle:
1. Christmas Island pipistrelle (Pipistrellus murrayi)
2. Nathusius' pipistrelle (Pipistrellus nathusii)
3. Common pipistrelle (Pipistrellus pipistrellus)
4. Soprano pipistrelle (Pipistrellus pygmaeus)
5. Savi's pipistrelle (Hypsugo savii)
6. Western pipistrelle (Parastellus hesperus)
7. Eastern false pipistrelle (Falsitrellus tasmaniensis)
8. Northern pipistrelle (Pipistrellus westralis)
9. New Guinea pipistrelle (Pipistrellus angulatus)
10. Mountain pipistrelle (Pipistrellus collinus)
11. Mount Popa pipistrelle (Pipistrellus paterculus)
12. Brown pipistrelle (Pipistrellus imbricatus)
13. Javan pipistrelle (Pipistrellus javanicus)
14. Chinese pipistrelle (Pipistrellus pulveratus)
15. Dark Madagascar pipistrelle (Hypsugo bemainty)
16. Narrow-winged pipistrelle (Pipistrellus stenopterus)
17. Chocolate pipistrelle (Falsistrellus affnis)

Spesies kelelawar dengan sebutan myotis:
1. Daubenton's myotis (Myotis daubentonii)
2. Brand'ts myotis (Myotis brandtii)
3. Lesser mouse-eared myotis (Myotis blythi)
3. Greater mouse-eared myotis (Myotis myotis)
4. Whiskered myotis (Myotis mystacinus)
5. Taiwan broad-muzzled myotis (Submyotodon latirostris)

Spesies kelelawar dengan sebutan noctule/barbastelle/flying fox/serotine/sprite/rousette:
1. Giant noctule (Nyctalus iasiopterus)
2. Rennell flying fox (Pteropus rennelli)
3. Noctule (Nyctalus noctula)
4. Lesser noctule (Nyctalus leisleri)
5. Madagascan rousette (Rousettus madagascariensis)
6. Western barbastelle (Barbastella barbastellus)
7. Pemba flying fox (Pteropus voeltzkowi)
8. Diminutive serotine (Eptesicus diminutus)
9. Chiriquinan serotine (Eptesicus chiriquinus)
10. Necklace sprite (Arielulus torquatus)

Berdasarkan daftar di atas, sekurang-kurangnya terdapat 85 spesies hewan kelelawar yang masuk ke dalam IUCN Red List (Daftar Merah IUCN). Artinya, bahwa spesies-spesies tersebut tergolong sebagai fauna yang dilindungi. Usaha mempertahankan keberadaan mereka sangat penting untuk menciptakan keseimbangan ekologi.

Friday, August 21, 2020

Multi-disiplin | Ekologi Kebudayaan

 Bidang pengetahuan ekologi manusia (human ecology) mengalami perkembangan lebih lanjut dengan menurunkan dua pengetahuan baru, yakni ekologi kebudayaan (cultural ecology) dan ekologi biologis manusia (human biological ecology). 

Manusia dan kebudayaan dihadapkan oleh sejumlah permasalahan utama di dalam bidang lingkungan. Permasalahan tersebut dapat diuraikan dengan pengetahuan ekologi kebudayaan sebagai pelengkap bagi antropologi. Pertanyaan-pertanyaan yang dapat dijawab oleh ekologi kebudayaan antara lain: Bagaimanakah orang lain menghadapi dan berurusan dengan masalah-masalah dasar seperti halnya yang kita hadapi? Bagaimanakah cara kita memperbaiki keadaan? dan Mampukah ekologi kebudayaan dan antropologi memberikan sumbangan yang berguna bagi masa depan?

Pemahaman dasarnya apabila kita mempelajari ekologi kebudayaan ialah bagaimana kita menentukan pilihan dan tindakan yang perlu (atau tidak perlu). Pemahaman ini memerlukan pengetahuan yang memadai yang harus diperoleh melalui studi terhadap kelompok-kelompok lain, termasuk dokumentasi tentang lingkungan dan adaptasi mereka. Selanjutnya, kita harus pula menelaah segala sesuatu yang telah kita pelajari guna menghasilkan respon-respon alternatif bagi situasi lingkungan. Kita juga harus memahami akibat dari pilihan yang telah kita ambil; kita dapat mengambil pelajaran dari keberhasilan dan kesalahan orang lain sehingga tidak mengalami keadaan yang serupa.

Masyarakat di Barat cenderung menganut pandangan bahwa manusia terpisah dari lingkungan. Filsafat Barat terus mengedepankan pandangan bahwa manusia harus memiliki misi "menaklukkan" alam. Sehingga, banyak orang yang hingga saat ini masih percaya bahwa manusia bukanlah bagian (partisipan) di dalam lingkungan, melainkan sebagai pihak yang harus mengatasi dan memaksa lingkungan sesuai kehendak manusia. Sebaliknya, banyak kelompok masyarakat tradisional (non-Barat, non-industrialis) yang memiliki pandangan yang berbeda dari masyarakat Barat dan kelompok masyarakat tersebut cenderung hidup secara "ekologis" dengan menjaga harmoni dengan lingkungan tempat mereka berada (White & Walker, 1997; Krech, 1999). 

Masyarakat tradisional pada umumnya lebih dapat dipercaya untuk merawat sumber daya, bukan karena alasan modern seperti euforia penghijauan atau sejenisnya, melainkan karena keterikatan antara lingkungan dan kepercayaan dan moralitas (Anderson, 1996; Berkes, 1999; Lentz, 2000). Para pakar biologi mulai mempercayai hal ini. Kent Redford, yang memperkenalkan istilah sarkastis (dan rasis) "ecological noble savage" (Redford, 1990; Lopez, 1992), mulai mengubah pandangannya dengan mengambil posisi yang lebih seimbang di dalam menilai kebiasaan ekologis Barat dan kebiasaan ekologis masyarakat tradisional di kawasan lain (Redford & Mansour, 1996; Sponsel, 2001). 

Untuk lebih memahami tentang ekologi kebudayaan kita pertama-tama harus mengakui bahwa manusia berikut kebudayaannya merupakan bagian yang terikat dari matriks lingkungan dan tidak dapat dipisahkan dari lingkungan, baik dalam lingkup sebab maupun akibat. Kegiatan manusia mempengaruhi lingkungan, yang pada gilirannya kemudian berbalik, lingkungan akan mempengaruhi kegiatan manusia, begitu seterusnya. Bentuk lingkungan bergantung pada sejarahnya, sebuah sejarah yang melibatkan keberadaan manusia. Namun, perlu juga kita sadari bahwa manusia bukanlah sekedar sata lain yang hidup dan berkembang di bumi. Lebih dari itu, manusia memiliki sifat mawas-diri, kooperatif, teknologis, dan sangat sosial. Gabungan sifat yang unik ini membedakan manusia dari organisme-organisme lain, sehingga membuat interaksi manusia dengan lingkungan menjadi sangat rumit.

Berpedoman pada uraian tersebut di atas maka kita dapat mulai mempelajari apakah yang dimaksud sebagai ekologi kebudayaan. Ekologi merupakan sebuah pengetahuan yang mempelajari interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Ekologi manusia bersifat lebih spesifik; mempelajari hubungan dan interaksi antara manusia, biologinya, kebudayaannya, dan lingkungan fisiknya. Aspek-aspek ini pada era 1950an disederhanakan ke dalam istilah cultural ecology

Pengetahuan tentang hubungan antara kebudayaan dan lingkungan tidak terbatas pada lingkup akademis; pengetahuan ini sangat penting karena memuat pemahaman-tentang dan kemungkinan solusi terhadap masalah-masalah penting yang dihadapi oleh manusia, terutama di dalam era kekinian. Penebangan hutan (Anderson, 1990), hilangnya spesies (Blaustein & Wake, 1995), kelangkaan pangan (Brown, 1994, 1996), dan terkikisnya tanah (Pimentel et al., 1995) sebelumnya tidak terpikirkan oleh para pakar ekologi mansia. 

Para pakar ekologi kebudayaan mencatat pengetahuan tradisional dan tempatan (lokal) yang bernilai bagi dunia yang lebih luas. Ribuan obat-obatan yang bermanfaat yang dikonsumsi oleh masyarakat Barat dalam kenyataannya berasal dari obat-obatan tradisional. Tanaman pangan kuno yang diperkenalkan oleh petani di Andes dan Tibet, seperti kentang dan sereal, kini juga menjadi komoditi penting di dunia. Teknik pengelolaan lahan secara tradisional yang bertahan selama berabad-abad, seperti yang diterapkan di Indonesia dan Guatemala, menjadi sumber inspirasi bagi perubahan di lingkup masyarakat yang lebih luas (global). Akumulasi pengetahuan kebudayaan dari miliaran mansia selama kurun waktu puluhan ribu tahun menjadi sumber daya yang luar biasa bagi dunia yang mengalami keterbatasan sumber daya.

Referensi:

Sutton MQ, Anderson EN. (2020). Introduction to Cultural Ecology. Oxon, United Kingdom: Routledge.

Friday, September 27, 2019

Antroposentrisme

Antroposentrisme (anthropocentrism), atau aliran yang terpusat pada manusia (human-centered), merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan-pandangan filsafat tertentu yang menyatakan bahwa prinsip-prinsip etika berlaku hanya pada manusia, dan kebutuhan dan kepentingan manusia merupakan nilai yang paling tinggi. Antroposentrisme berhubungan dengan filsafat agama maupun filsafat sekuler. Di dalam sains, antroposentrisme berperan penting di dalam membebaskan pengetahuan manusia dari kewenangan-kewenangan eksternal, dan mendorong kepentingan manusia sebagai satu kesatuan melawan kepentingan-kepentingan yang lain. Baik ilmuwan maupun ahli teologi telah menarik antroposentrisme untuk membantu mempertahankan pandangan spesifik tentang alam; ilmuwan berpedoman pada pandangan tentang evolusi di mana manusia dianggap sebagai bentuk tertinggi dari kehidupan di Bumi, sedangkan ahli teologi berpedoman pada hak yang dimandatkan oleh Tuhan kepada manusia untuk menjalankan dominasi atas alam.

Bermula pada sekitar tahun 1970 antroposentrisme menjadi semakin lazim terjadi di dalam wacana lingkungan. Etika antroposentris mengevaluasi isu-isu lingkungan berdasarkan bagaimana isu-isu tersebut mempengaruhi kebutuhan manusia dan terutama merujuk pada kepentingan manusia. Istilah ini bertolak belakang dengan berbagai pandangan biosentris (berpusat pada kehidupan), yang beranggapan bahwa makhluk selain manusia juga membawa nilai moral.

REFERENSI:

Kristiansen R. "Anthropocentrism". Dalam: JWV van Hyussteen. (2003). Encyclopedia of Science and Religion. New York: Macmillan Reference USA. hal. 18-19.

Saturday, September 21, 2019

IPA | Nihonium

Nihonium (Nh) merupakan unsur pada tabel kimia yang ditemukan pada tahun 2016 di RIKEN Nishina Center for Accelerator-Based Science, Wako, Jepang. Merupakan sejarah karena untuk pertama kalinya sebuah unsur ditemukan di kawasan Asia. Nihonium merupakan sebuah elemen radioaktif buatan berumur pendek yang memiliki 113 proton. Pada Tabel Periodik versi 1 Desember 2018, seperti yang diterbitkan oleh International Union of Pure and Applied Chemistry, Nh berada di kolom ke-13 dan baris ke-7 (IUPAC, 2018). Nihonium dimasukkan ke dalam Tabel Sistem Periodik oleh IUPAC bersama tiga unsur baru lainnya, yakni muscovium (Mc), tenessine (Ts), dan organesson (Og). Sebelum bernama nihonium, unsur ini memiliki sebutan sementara ununtrium dengan simbol Uut (Weller et al., 2018: 22). 

Pada awalnya penemu dari RIKEN mengajukan nama Nipponium (dengan simbol Np) kepada IUPAC Commission, namun nama dan simbol tersebut telah dipergunakan; nipponium merupakan nama yang diusulkan untuk unsur 72, sedangkan simbol Np telah digunakan untuk neptunium (Fontani et al., 2015).

Tim peneliti RIKEN dipimpin oleh Prof. Kosuke Morita. Pada awalnya, Nihonium diklaim oleh sejumlah peneliti Russia, namun akhirnya para peneliti dari RIKEN lah yang diakui secara resmi (Dingle, 2018: 49). Tim ini memulai usahanya pada bulan September 2003 dengan tujuan menemukan unsur super berat dengan menggunakan akselerator linier ion berat RIKEN (RILAC) yang diproduksi oleh RI Beam Factory. Pada bulan Juli 2004 mereka untuk pertama kalinya berhasil melakukan sintesis unsur 113. Sintesis kemudian diulangi sebanyak dua kali, yakni pada bulan April 2005 dan Agustus 2012 dan selalu berhasil. Pada tanggal 31 Desember 2015, hasil temuan RIKEN ini secara resmi mendapatkan hak resmi. Penamaan unsur nihonium dengan simbol Nh secara resmi diberikan pada tanggal 18 Maret 2015 (RIKEN, 2016). 

Berkenaan dengan keberhasilan tersebut, Prof. Morita sangat berharap bahwa nihonium dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi generasi mendatang dan seluruh umat manusia (RIKEN, 2016). 

Referensi:

Dingle A. (2018). Elements. New York: Penguin.

Fontani M, Costa M, Orna MV. (2015). The Lost Elements: The Periodic Table's Shadow Side. Oxford: Oxford University Press.

Periodic Table of Elements - IUPAC | International Union of Pure and Applied Chemistry. (2019). IUPAC | International Union of Pure and Applied Chemistry. Diakses 21 September 2019, dari https://iupac.org/what-we-do/periodic-table-of-elements/

Element 113 has an official name! The name is nihonium, and the chemical symbol Nh | RIKEN. (2016). Riken.jp. Diakses 21 September 2019, dari http://www.riken.jp/en/pr/topics/2016/20161130_1/

Weller M, Overton T, Armstrong F, Rourke J. (2018). Inorganic Chemistry. 7th edition. Oxford: Oxford University Press.

Tuesday, August 9, 2011

IPA | Energi Ionisasi

Energi ionisasi, atau potensial ionisasi, adalah energi minimum yang diperlukan oleh atom netral untuk melepaskan satu elektron untuk membentuk ion bermuatan positif dalam bentuk gas. Energi yang diperlukan untuk melepaskan elektron dinamakan sebagai energi ionisasi. Jika energi semakin besar, maka semakin banyak pula elektron yang dilepaskan dari atom. Energi ionisasi memiliki satuan kJ/mol.

Harga energi ionisasi dipengaruhi oleh besarnya muatan inti dan ukuran jari-jari atom. Semakin besar muatan inti maka semakin besar pula energi ionisasinya. Semakin besar jari-jari atom maka semakin kecil daya tarik terhadap elektron terluarnya sehingga energi ionisasinya semakin kecil dan semakin reaktif pula unsur tersebut.

Sehingga, energi ionisasi unsur-unsur satu golongan dari atas ke bawah (pada tabel Sistem Periodik) akan semakin kecil karena jari-jari atom unsur satu golongan dari atas ke bawah semakin besar dengan bertambahnya kulit elektron, demikian pula sebaliknya. Sedangkan energi ionisasi unsur dari kiri ke kanan semakin bertambah karena muatan intinya semakin besar, tetapi jumlah kulit elektronnya tetap.

Sumber:
Suyatno et al. "Kimia untuk SMA/MA Kelas X". Grasindo: Jakarta.

Friday, August 5, 2011

IPA | Kerja Enzim

Enzim memiliki struktur yang tersusun oleh protein yang memiliki bentuk tertentu, atau biasa disebut dengan struktur tersier. Dengan struktur tersebut enzim beperan sebagai energi aktivasi pada sebuah reaksi yang bekerja jauh lebih efektif daripada energi aktivasi biasa. Dengan menggunakan enzim energi aktivas lebih rendah sehingga laju reaksi lebih cepat. Kekhasan kerja enzim yang lainnya ialah selama beraksi enzim tidak ikut bereaksi.

Senyawa yang akan direaksikan oleh enzim dinamakan substrat, sedangkan hasil reaksi tersebut adalah produk. Pada saat enzim mereaksikan suatu senyawa (substrat) maka akan terbentuk kompleks substrat-enzim dan kemudian akan dihasilkan produk dan enzim. Enzim hasil reaksi ini memiliki struktur yang sama dengan enzim sebelum reaksi dan mampu mengkatalisasi substrat yang lain. Bagian enzim yang menjadi tempat reaksi substrat adalah sisi aktif enzim (active site). Sisi aktif ini bukanlah tempat yang kaku melainkan dapat menyesuaikan bentuk substratnya. Pada saat substrat memasuki sisi aktif maka enzim akan mengubah sedikit bentuk sisi aktif sehingga lebih pas dengan substrat. Sifat enzim yang demikian disebut 'induced fit'.

Dalam aktivitasnya enzim pada dasarnya memerlukan komponen nonprotein yang dinamakan kofaktor. Berdasarkan strukturnya kofaktor dapat digolongkan menjadi tiga: 1) ion anorganik (aktivator), 2) gugus prostetik, dan 3) koenzim. Kofaktor dalam bentuk ion anorganik (aktivator) biasanya berupa logam yang berikatan lemah dengan enzim, misalnya Fe, Mn, Cu, Ca, Zn, K dan Co. Gugus prostetik tersusun oleh senyawa organik yang berikatan secara kuat (ikatan kovalen) dengan enzim dan membantu proses kataliktik. Contoh gugus prostetik adalah FMN (Flavin mononucleotide), FAD (Flavin adenine dinucleotide), dan biotin. Koenzim merupakan senyawa organik yang tidak melekat erat pada protein suatu enzim. Contoh koenzim adalah NAD (Nicotamide adenine dinocleotide), NADP (Nicotinamide adenine dinucleotide phosphate), koenzim A, dan ATP. Protein suatu enzim disebut apoenzom. Beberapa koenzim melekat permanen pada enzim. Dalam kasus ini kompleks protein-koenzim tersebut dinamakan holoenzim.

Sumber:
Begot Santoso. 2007. "Biologi, Pelajaran Biologi untuk SMA/MA". Ganeca Exacta: Jakarta